INTAN DWI REINO

Ikon

Just another WordPress.com site

GEOLOGI DASAR

TEORI TERBENTUKNYA BUMI

Macam-macam hipotesa :

  • Planetesimal
  • Pasang surut
  • Debu kosmis
  • Kabut kosmis
  • Ledakan alam (big bang)

BUMI SEBAGAI PLANET

  • Anggota tata surya sistem perbintangan bima sakti (the milky way system of galaxy)
  • Bergerak dalam pengaruh gaya berat matahari yang merup pusat tata surya ini
  • Planet2 ada 9 : merkurius, venus, bumi, mars, yupiter, saturnus, uranus neptunus, pluto
  • Bulan merup satelit bumi
  • Bentuk bumi bola yg melonjong dg jari2 6368 km (di ekuator), 6.356 km (kutub)

Cabang-cabang pengetahuan Ilmu Geologi:

  • Mineralogi = Mempelajari minerala-mineral, komposisi, bagaimana terjadinya, struktur kristal dan sifat-sifat fisiknya.
  • Petrologi = Ilmu yang mempelajari batuan, asal mula kejadiannya, struktur dan tekstur, klasifikasi atau pengelompokan berbagai macam batuan yang terdapat di atas permukaan bumi.
  • Stratigrafi = Ilmu yang mendiskripsi dan mempelajari perlapisan batuan, penyebarannya, komposisi, ketebalan, umur, keragaman dan korelasi lapisan batuan.
  • Paleontologi  = Ilmu yang mempelajari fosil dan sisa-sisa dari jejak kehidupan masa lalu.
  • Geologi Struktur = Ilmu yang mempelajari bentuk dan konfigurasi batuan di kerak bumi yang terdeformasi, dimana lapisan batuan terpatahkan, tergeser atau terlipat menjadi pegunungan lipatan.
  • Geomorfologi = Ilmu yang mempelajari bentuk muka bumi dan proses-proses alam yang membentuknya, menganalisis dan menginterpretasi sejarah bentang alamnya.
  • Geofisika = Ilmu yang mempelajari sifat-sifat fisik bumi secara keseluruhan termasuk kegempaan, gaya berat, kemagnitan, gradien suhu dan sebagainya.
  • Geokimia = Ilmu yang mempelajari komposisi (kimia) bumi,keberadaan unsur-unsur isotop di bumi dan penyebaran unsur-unsur tertentu di berbagai tempat.
  • Geologi Ekonomi  = Ilmu yang mempelajari adanya penyebaran dan terjadinya mineral-mineral ekonomis, menghitung cadangan serta nilai ekonomis cebakan mineral.
  • Geologi Teknik= Ilmu yang mempelajari geologi untuk kerekayasaan dan erat hubungannya dengan rekayasa sipil.

STRUKTUR BUMI

Struktur bumi diketahui dengan mempelajari sifat gelombang gempa bumi, yaitu dengan mempelajari waktu tempuh perambatan gelombang yang diperhitungkan berdasarkan jarak tempuh dan waktu yang diperlukan. Hasilnya, ternyata bervariasi tergantung dari densitas (berat jenis) media yang dilaluinya.

Kesimpulannya: Bumi tidak merupakan suatu bulatan yang homogen, melainkan terdiri dari beberapa lapisan yang konsentris dengan densitas berbeda. Densitas terbesar terakumulasi di pusat dan mengecil menjauhi dari pusat.

Penampang Bumi:

Bagian Bumi

  1. Kerak Bumi (Earth Crust).
  • Sering disebut Litosfer.
  • Densitas rata-rata 2,7 Gram/cc
  • Ketebalannya tidak merata. Daerah Pegunungan: > 70 Km; Daerah Kontinen: berkisar 30 – 40 Km; Daerah Samudera: < seismos =” gempa” m =” log” m =” Skala” t =” Waktu” x =” Amplitudo” y =” Faktor” terendah =” getaran” tertinggi =” hancurnya”> 8 XII Hancur total, gelombang terlihat di permukaan tanah dan benda” terlempar ke udara
    Sumber: Skinner, 1992

Bahaya Gempa Bumi

  1. Akibat langsung dari goncangan permukaan tanah dan pensesaran:
    Bergeraknya tanah akibat gempa, terutama gelombang permukaan di lapisan” batuan di permukaan dan regolith, berakibat dapat merusak bahkan kadang” menghancurkan bangunan
  2. Bila permukaan tanah tersesarkan, bangunan” terbelah, jalan terputus dan segala sesuatu yang dilalui sesar terbelah.

Akibat tidak langsung dari goncangan yang mengakibatkan kerusakan:

  1. Kebakaran. Dapat terjadi karena adanya goncangan menumpahkan kompor, mematahkan saluran gas, memutus kabel listrik dan pipa air.
  2. Pada daerah berlereng curam, terjadi regolith meluncur ke bawah, tebing” ambruk dan gerakan tanah longsor, mengakibatkan rumah, jalan dan struktur bangunan hancur.
  3. Goncangan mendadak pada sedimen dan regolith yang jenuh air dapat mengubah tanah yang padat menjadi seperti massa cair (quicksand). Prosesnya disebut liquefaction, yang menyebabkan amblesnya bangunan.
  4. Terjadinya gelombang laut seismik atau tsunami (Jepang: gelombang pelabuhan).
    Gempa pada lantai samudera menyebabkan air laut bergerak dengan cepat (sampai 950 km/jam). Di laut terbuka gelombang tidak tampak, karena amplitudonya hanya beberapa meter tetapi dengan panjang gelombang sampai 200 km. Setelah mencapai tempat yang dangkal akan membentuk gelombang dengan amplitudo yang sangat tinggi, sampai 30 meter.

Gerak semu tahunan matahari pada ekliptika.

Gerak semu tahuan Matahari adalah gerakan semu Matahari dari khatulistiwa bolak-balik antara 23,5o lintang utara dan lintang selatan setiap tahun (lihat gambar 4.). Karena Matahari selalu berbalik arah setelah sampai lintang 23,5o disebut garis balik. Garis 23,5o LU disebut garis balik utara (GBU) dan garis 23,5o LS disebut garis balik selatan (GBS). Garis lintang adalah garis yang sejajar dengan garis khatulistiwa.

BATUAN BEKU

  1. 1.      Komposisi Kimia
  2. B. Asam
  3. B. Intermediate
  4. B. Basa
  5. B. Ultra Basa
    1. 2.      Cara Terjadinya
    2. B. Dalam (plutonic rocks)
    3. B. Gang (hy-abyssal rocks)
    4. B. Luar (volcanic rocks)

 

  1. Pembagian genetik batuan beku didasarkan pada genesa atau tempat terjadinya batuan beku, terdiri dari:

a)      Batuan Ekstrusi, terdiri dari semua material magma yang dikeluarkan ke permukaan bumi baik di daratan maupun di bawah permukaan laut, materialnya mengalami proses pendinginan dengan cepat, contohnya: riolit, trahkit, andesit, dasit, latit dan basal.

b)      Batuan Intrusi, terdiri dari semua material magma yang menyusup di dalam perlapisan kerak bumi dan mengalami pembekuan dengan proses pendinginan yang sangat lambat, contohnya: granit, syenit, diorit, tonalit, monsonit dan gabro.
Batuan intrusi yang sejajar dengan perlapisan kerak bumi disebut Konkordan, sedang
Batuan intrusi yang memotong dengan perlapisan kerak bumi disebut Diskordan.

  1. Pembagian kimia batuan beku, didasarkan pada senyawa-senyawa kimia yang membentuk mineral dari batuan beku. Klasifikasi batuan beku berdasarkan kandungan kimianya didasarkan pada senyawa oksidanya, seperti SiO3 dan MgO.
  2. Struktur Batuan Beku adalah pembagian batuan beku berdasarkan bentuk batuan beku dan proses kejadiannya, yang terbagi menjadi:

a)      Struktur Bantal (pillow structure) adalah struktur yang dinyatakan pada batuan ekstrusi tertentu yang dicirikan oleh massa batuan yang berbentuk bantal, berukuran antara 30 – 60 cm dan biasanya jarak antar bantal berdekatan dan terisi oleh bahan-bahan dari sedimen klastik, terbentuk di dalam air dan umumnya terbentuk di laut dalam.

b)      Struktur Vesikular adalah struktur pada batuan ekstrusi yang terdapat rongga-rongga yang berbentuk elip, silinder maupun tidak beraturan. Terbentuknya rongga-rongga terjadi akibat keluarnya/dilepaskannya gas-gas yang terkandung di dalam lava setelah mengalami penurunan tekanan.

c)      Struktur Aliran, terjadi akibat lava yang disemburkan tidak ada yang dalam keadaan homogen, karena saat lava menuju ke permukaan selalu terjadi perubahan komposisi, kadar gas, kekantalan, dan derajat kristalisasi. Struktur aliran dicerminkan dengan adanya goresan berupa garis-garis yang sejajar, perbedaan warna dan teksturnya.

d)     Struktur Kekar

Kekar adalah bidang-bidang pemisah/retakan yang terdapat dalam semua jenis batuan, biasanya disebabkan oleh proses pendinginan tetapi ada yang disebabkan oleh gerakan-gerakan di dalam bumi yang berlaku sesudah batuan mengalami pembekuan.
Retakan-retakan yang memotong sejajar dengan permukaan bumi menghasilkan struktur perlapisan, sedang yang tegak lurus dengan permukaan bumi akan menghasilkan struktur bongkah.

Retakan dapat pula membentuk kolom-kolom yang dikenal dengan struktur kekar meniang (columnar jointing), hal ini disebabkan karena adanya pendinginan dan penyusutan yang merata dalam magma dan dicirikan oleh perkembangan retakan membentuk segi empat, segi lima atau segi enam, umumnya terdapat pada batuan basal.

BATUAN SEDIMEN

 

berdasarkan cara terjadinya dibagi menjadi:

  1. 1.      BS Klastis
  • proses sedimentasi partikel/pecahan
  • akibat adanya pelapukan mekanis
  1. 2.      BS Non Klastis
  • BS Kimia
    • terbentuk karena proses kimia
    • BS Organik
      • terbentuk oleh kegiatan organisma
  1. 3.      BS Piroklastis
  • terbentuk dari hasil letusan gunung api
  • kemudian mengalami proses sedimentasi

 

  1. Klasifikasi Batuan Sedimen

Dikelompokkan menjadi 5 kelompok yang didasarkan pada cara terbentuknya, sehingga setiap kelompok mempunyai tempat pengendapan tersendiri, mulai dari pengendapan di lingkungan darat, sungai, danau dan laut.

a)      Batuan Sedimen Detritus (Klastik)

Diendapkan dengan proses mekanis baik di lingkungan darat atau air dan terbagi dalam 2 golongan berdasarkan ukuran besar butirnya, yaitu:

1)      Golongan Detritus Kasar, mempunyai ukuran butir yang besar

2)      Golongan Detritus Halus, mempunyai ukuran butir yang halus

Sedimen Pengendapan

b)      Detritus Kasar Breksi

Dapat diendapkan langsung dari ledakan gunungapi dan tersebar disekitar gunung, serta dapat diendapkan di lingkungan air seperti sungai, danau dan laut
Konglomerat Biasanya diendapkan di lingkungan sungai
Batu Pasir Biasanya diendapkan di lingkungan laut
Detritus Halus

Batu Lanau, Serpih, Batu Lempung dan Napal Pada umumnya diendapkan di lingkungan laut, dari laut dangkal sampai laut dalam.

c)      Batuan Sedimen Evaporit

Proses terjadinya harus ada air yang memiliki larutan kimia yang cukup pekat, umumnya terjadi pada lingkungan danau atau laut yang tertutup, sehingga terjadi pengayaan unsur-unsur tertentu, contohnya: batuan gips, anhidrit, dan batu garam.

d)     Batuan Sedimen Batubara

Terbentuk dari unsur-unsur organik, yaitu dari sisa-sisa tumbuhan yang terendapkan di lingkungan laut dan tertimbun oleh suatu lapisan yang tebal di atasnya, sehingga mengalami perubahan akibat adanya tekanan dan panas.

e)      Batuan Sedimen Silika

Terbentuk karena adanya gabungan antara proses organik seperti radiolaria atau diatom dengan proses kimiawi dalam penyempurnaannya, contohnya: batuan rijang (chert), radiolaria dan tanah diatom.

f)       Batuan Sedimen Karbonat

Terbentuk dari kumpulan cangkang moluska, alga, foraminifera atau lainnya yang bercangkang dari kapur pada lingkungan laut litoral sampai bathial, contohnya: batuan gamping/kapur dan dolomit.

  1. Struktur Batuan Sedimen
  • adalah sifat-sifat dari kenampakan yang mudah diamati/dipelajari pada singkapan batuan sedimen yang merupakan hasil manifestasi dari proses sedimentasi dari proses fisika (seperti: angin, air dan arus), proses kimia (seperti: konkresi) dan proses organis (seperti: jejak binatang).
  • Sifat yang langsung dapat diamati dengan mata telanjang adalah unsur perlapisan. Selain itu, intensitas arus mempengaruhi pengendapan dalam skala butir, dan stratifikasi menunjukkan proses terbentuknya lapisan di lingkungan pengendapan.
  • Stratum adalah suatu lapisan yang dapat dibedakan dengan lapisan di atasnya atau dibawahnya berdasarkan sifat fisik, bidang non sedimentasi dan lainnya.
  • Cross Stratum (lapisan silang siur) adalah lapisan yang membentuk sudut terhadap lapisan yang berada di atas atau di bawahnya dan dipisahkan oleh bidang erosi, bidang non sedimentasi atau sifat fisik lainnya.
  • Set adalah cross strata atau strata yang dipisahkan dari strata lainnya dengan bidang erosi, bidang non sedimentasi atau sifat fisik lainnya.
  • Coset merupakan gabungan dari beberapa set, sedang Composite Set merupakan gabungan dari beberapa coset.
  • Tabular cross Bedding adalah suatu set yang bidang sentuhnya bukan merupakan bidang erosi, tetapi merupakan bidang datar yang merupakan bidang non sedimentasi.
  • Planar Cross Bedding adalah suatu set dimana bidang sentuhnya bukan merupakan bidang datar, melainkan bidang miring serta merupakan bidang non sedimentasi.
  • Trough Cross Bedding merupakan suatu set dimana bidang sentuhnya berupa bidang lengkung yang merupakan bidang erosi.

Berdasarkan asalnya, struktur sedimen dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu:

1)      Struktur Sedimen Primer, terbentuk karena proses sedimentasi yang dapat merefleksikan mekanisasi pengendapannya.

2)      Struktur Sedimen Sekunder, terbentuk sesudah sedimentasi, sebelum atau pada waktu diagenesa, juga merefleksikan keadaan lingkungan pengendapan, misalnya: keadaan dasar, lereng dan lingkungan organis.

3)      Struktur Sedimen Organik, terbentuk oleh kegiatan binatang, seperti: moluska, cacing atau binatang lainnya.

BATUAN METAMORFOSA

 

  • terjadi pada kedalaman >20km
  • terjadi pada fasa padat tanpa fasa cair/transportasi
  • faktor-faktor yang mempengaruhi :
    • panas
    • tekanan
    • berdasarkan faktor dominan, metamorposa dibagi :
      • M. termal – dominan f. panas
      • M. Kataklastik – dominan f. tekanan
      • M. Regional – panas dan tekanan sama

 

 

Metamorfosa adalah proses rekristalisasi batuan di kedalaman kerak bumi (3 – 20 Km) yang keseluruhannya atau sebagian besar terjadi dalam keadaan padat yaitu tanpa melalui fasa cair, sehingga terbentuk struktur dan mineralogi baru yang sesuai dengan lingkungan fisik baru pada tekanan (P) dan temperatur (T) tertentu.

Batuan metamorfosa dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:

1)      Metamorfosa Kontak (termal) adalah perubahan mineral batuan membentuk mineral batuan yang baru yang lebih stabil akibat adanya panas yang secara intensif dipancarkan oleh suatu massa magma yang sedang mengintrusi.

2)      Metamorfosa Dinamis (kataklastik) adalah perubahan mineral batuan membentuk mineral batuan yang baru akibat adanya tekanan yang besar.

3)      Metamorfosa Regional adalah perubahan mineral batuan yang terkubur sangat dalam pada daerah yang sangat luas akibat adanya panas dan tekanan yang besar, sehingga membentuk mineral batuan baru yang lebih stabil.

Penamaan

Adjektif

Terestrial, Terran, Telluric, Tellurian, Kebumian
Ciri-ciri orbit
Epos J2000.0[note 1]

Aphelion

152.097.701 km
1,0167103335 SA

Perihelion

147.098.074 km
0,9832898912 SA

Sumbu semi-mayor

149.597.887,5 km
1,0000001124 SA

Eksentrisitas

0,016710219

Periode orbit

365,256366 hari
1,0000175 tahun

Kecepatan orbit rata-rata

29,783 km/s
107.218 km/jam

Inklinasi

1°34’43,3″[1]
ke Bidang Invariabel

Bujur node menaik

348,73936°

Argumen perihelion

114,20783°

Satelit

1 (Bulan)
Ciri-ciri fisik

Jari-jari rata-rata

6,371.0 km[2]

Jari-jarikhatulistiwa

6.378,1 km[3]

Jari-jarikutub

6.356,8 km[4]

Kepepatan

0,0033528[3]

Keliling khatulistiwa

40.075,02 km (khatulistiwa)
40.007,86 km (meridian)
40.041,47 km (rata-rata)

Luas permukaan

510.072.000 km²[5][6][note 2]

148.940.000 km² daratan  (29,2 %)

361.132.000 km² perairan (70,8 %)

Volume

1,0832073×1012 km3

Massa

5,9736×1024 kg[7]

Kepadatan rata-rata

5,5153 g/cm3

Gravitasi permukaan di khatulistiwa

9,780327 m/s²[8]
0,99732 g

Kecepatan lepas

11,186 km/s

Hari sideris

0,99726968 d[9]
23h 56m 4.100s

Kecepatan rotasi

1674,4 km/jam

Kemiringan sumbu

23,439281°

Albedo

0,367[7]

Suhupermukaan
Kelvin
Celsius

min rata-rata maks
184 K 287 K 331 K
−89 °C 14 °C 57, 7 °C
Atmosfer

Tekananpermukaan

101,3 kPa (Permukaan laut)

Komposisi

78,08% Nitrogen (N2)
20,95% Oksigen (O2)
0,93% Argon
0,038% Karbon dioksida
Sekitar 1% uap air (bervariasi sesuai iklim)[7]

Komposisi kimia

Tabel Kerak oksida F. W. Clarke
Senyawa Formula Komposisi
Silika SiO2 59,71%
Alumina Al2O3 15,41%
kapur CaO 4,90%
Magnesia MgO 4,36%
Natrium oksida Na2O 3,55%
Besi(II) oksida FeO 3,52%
Kalium oksida K2O 2,80%
Besi(III) oksida Fe2O3 2,63%
Air H2O 1,52%
Titanium dioksida TiO2 0,60%
Fosfor pentaoksida P2O5 0,22%
Total 99,22%

METODE-METODE GEOFISIKA

·         Metode Gayaberat (Gravitasi)

·         Metode Magnetik

·         Metode Seismik

Peralatan yang dimiliki Pusat Survei Geologi untuk metode Seismik yang sumbernya berasal dari alam, adalah sebagai berikut :

1. Seismograph Spingether Geometrics MEQ-800.
2. Seismograph Kinematic PS-2.
3. DataMarks LS-7000XT.

·         Metode Tahanan Jenis

·         Metode Polarisasi Terimbas

·         Metode Elektromagnetik Untuk Penyelidikan Dangkal

·         Metode Very Low Frequency

·         Metode Elektromagnetik Untuk Penyelidikan Dalam

·         Metode Magnetotelurik


Filed under: Tak Berkategori

ARAH MATA ANGIN DALAM DUNIA PELAYARAN

Bagimana hubungan arah angin dalam ilmu pelayaran?
Saya mulai dengan arah mata angin dalam bidang ilmu pelayaran, yang umumnya juga dah ada dimana-mana, di bangku SMP dulu juga sudah, meski tidak sedetil dalam teori ilmu pelayaran.

Dalam teori dasar Ilmu Pelayaran Datar (IPD) ada yang namanya arah mata angin yang merupakan lingkaran 360° (360 derajat) bumi dari utara ke utara lagi,yang terdiri dari empat inti utama yakni Utara,Timur,Selatan,Barat, dan di jabarkan lagi ke 16 anak2nya (emangnya manusia ?) yang masing-masing memiliki sudut sebesar 22,5° (22,5 derajat) sehingga menjadi seperti ini:

arah mata angin utama

U: Utara = 000° (nol derajat)
UTL: Utara Timur Laut = 022.5° (22.5 derajat)
TL: Timur Laut = 045° (45 derajat)
TTL: Timur Timur Laut = 067.5° (67.5 derjat)

T: Timur = 090° (90 derajat)
TMG: Timur Menenggara = 112.5°
T: Tenggara = 135°
SMG: Selatan menenggara = 157.5°

S: Selatan = 180°
SBD: Selatan Barat Daya = 202°
BD: Barat Daya = 225°
BBD: Barat Barat Daya = 247.5°

B: Barat = 270°
BBL: Barat Barat Laut = 292.5°
BL: Barat Laut = 315°
UBL: Utara Barat Laut = 337.5°
Dan kembali lagi ke utara sehingga menjadi 360 derajat.

Dalam ke 16 (enam belas) arah mata angin diatas masih ada juga anak-anaknya hingga menjadi 32 arah, yang didalam ilmu pelayaran di sebut 32 surat, dimana satu tiap-tiap surat memiliki sudut sebesar 11,25° (sebelas koma duapuluh lima derajat).

Penghitungan diatas menjadi patokan dasar dalam berlayar, apalagi berlayar koboy alias manual tanpa ada alat2 navigasi pelayaran seperti Global Positioning Sytem (GPS), Radar, dsb.

Filed under: Tak Berkategori

Menghitung Stabilitas Kapal

1. PENGERTIAN STABILITAS
Stabilitas adalah keseimbangan dari kapal, merupakan sifat atau kecenderungan dari sebuah kapal untuk kembali kepada kedudukan semula setelah mendapat senget (kemiringan) yang disebabkan oleh gaya-gaya dari luar (Rubianto, 1996). Sama dengan pendapat Wakidjo (1972), bahwa stabilitas merupakan kemampuan sebuah kapal untuk menegak kembali sewaktu kapal menyenget oleh karena kapal mendapatkan pengaruh luar, misalnya angin, ombak dan sebagainya.
Secara umum hal-hal yang mempengaruhi keseimbangan kapal dapat dikelompokkan kedalam dua kelompok besar yaitu :
a. Faktor internal yaitu tata letak barang/cargo, bentuk ukuran kapal, kebocoran karena kandas atau tubrukan
b. Faktor eksternal yaitu berupa angin, ombak, arus dan badai

Oleh karena itu maka stabilitas erat hubungannya dengan bentuk kapal, muatan, draft, dan ukuran dari nilai GM. Posisi M (Metasentrum) hampir tetap sesuai dengan style kapal, pusat buoyancy B (Bouyancy) digerakkan oleh draft sedangkan pusat gravitasi bervariasi posisinya tergantung pada muatan. Sedangkan titik M (Metasentrum) adalah tergantung dari bentuk kapal, hubungannya dengan bentuk kapal yaitu lebar dan tinggi kapal, bila lebar kapal melebar maka posisi M (Metasentrum) bertambah tinggi dan akan menambah pengaruh terhadap stabilitas.
Kaitannya dengan bentuk dan ukuran, maka dalam menghitung stabilitas kapal sangat tergantung dari beberapa ukuran pokok yang berkaitan dengan dimensi pokok kapal.
Ukuran-ukuran pokok yang menjadi dasar dari pengukuran kapal adalah panjang (length), lebar (breadth), tinggi (depth) serta sarat (draft). Sedangkan untuk panjang di dalam pengukuran kapal dikenal beberapa istilah seperti LOA (Length Over All), LBP (Length Between Perpendicular) dan LWL (Length Water Line). Beberapa hal yang perlu diketahui sebelum melakukan perhitungan stabilitas kapal yaitu :
1. Berat benaman (isi kotor) atau displasemen adalah jumlah ton air yang dipindahkan oleh bagian kapal yang tenggelam dalam air.
2. Berat kapal kosong (Light Displacement) yaitu berat kapal kosong termasuk mesin dan alat-alat yang melekat pada kapal.
3. Operating Load (OL) yaitu berat dari sarana dan alat-alat untuk mengoperasikan kapal dimana tanpa alat ini kapal tidak dapat berlayar.

Displ = LD + OL + Muatan
DWT = OL + Muatan

Dilihat dari sifatnya, stabilitas atau keseimbangan kapal dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu satbilitas statis dan stabilitas dinamis. Stabilitas statis diperuntukkan bagi kapal dalam keadaan diam dan terdiri dari stabilitas melintang dan membujur. Stabilitas melintang adalah kemampuan kapal untuk tegak sewaktu mengalami senget dalam arah melintang yang disebabkan oleh adanya pengaruh luar yang bekerja padanya, sedangkan stabilitas membujur adalah kemampuan kapal untuk kembali ke kedudukan semula setelah mengalami senget dalam arah yang membujur oleh adanya pengaruh luar yang bekerja padanya. Stabilitas melintang kapal dapat dibagi menjadi sudut senget kecil (00-150) dan sudut senget besar (>150). Akan tetapi untuk stabilitas awal pada umumnya diperhitungkan hanya hingga 150 dan pada pembahasan stabilitas melintang saja.
Sedangkan stabilitas dinamis diperuntukkan bagi kapal-kapal yang sedang oleng atau mengangguk ataupun saat menyenget besar. Pada umumnya kapal hanya menyenget kecil saja. Jadi senget yang besar, misalnya melebihi 200 bukanlah hal yang biasa dialami. Senget-senget besar ini disebabkan oleh beberapa keadaan umpamanya badai atau oleng besar ataupun gaya dari dalam antara lain GM yang negative. Dalam teori stabilitas dikenal juga istilah stabilitas awal yaitu stabilitas kapal pada senget kecil (antara 00–150). Stabilitas awal ditentukan oleh 3 buah titik yaitu titik berat (Center of gravity) atau biasa disebut titik G, titik apung (Center of buoyance) atau titik B dan titik meta sentris (Meta centris) atau titik M.

2. MACAM-MACAM KEADAAN STABILITAS
Pada prinsipnya keadaan stabilitas ada tiga yaitu Stabilitas Positif (stable equilibrium), stabilitas Netral (Neutral equilibrium) dan stabilitas Negatif (Unstable equilibrium).
(a). Stabilitas Positif (Stable Equlibrium)
Suatu keadaan dimana titik G-nya berada di atas titik M, sehingga sebuah kapal yang memiliki stabilitas mantap sewaktu menyenget mesti memiliki kemampuan untuk menegak kembali.
(b). Stabilitas Netral (Neutral Equilibrium)
Suatu keadaan stabilitas dimana titik G-nya berhimpit dengan titik M. Maka momen penegak kapal yang memiliki stabilitas netral sama dengan nol, atau bahkan tidak memiliki kemampuan untuk menegak kembali sewaktu menyenget. Dengan kata lain bila kapal senget tidak ada MP maupun momen penerus sehingga kapal tetap miring pada sudut senget yang sama, penyebabnya adalah titik G terlalu tinggi dan berimpit dengan titik M karena terlalu banyak muatan di bagian atas kapal.
(c). Stabilitas Negatif (Unstable Equilibrium)
Suatu keadaan stabilitas dimana titik G-nya berada di atas titik M, sehingga sebuah kapal yang memiliki stabilitas negatif sewaktu menyenget tidak memiliki kemampuan untuk menegak kembali, bahkan sudut sengetnya akan bertambah besar, yang menyebabkan kapal akan bertambah miring lagi bahkan bisa menjadi terbalik. Atau suatu kondisi bila kapal miring karena gaya dari luar , maka timbullah sebuah momen yang dinamakan MOMEN PENERUS/Heiling moment sehingga kapal akan bertambah miring.

3. TITIK-TITIK PENTING DALAM STABILITAS
Menurut Hind (1967), titik-titik penting dalam stabilitas antara lain adalah titik berat (G), titik apung (B) dan titik M.
(a). Titik Berat (Centre of Gravity)
Titik berat (center of gravity) dikenal dengan titik G dari sebuah kapal, merupakan titik tangkap dari semua gaya-gaya yang menekan ke bawah terhadap kapal. Letak titik G ini di kapal dapat diketahui dengan meninjau semua pembagian bobot di kapal, makin banyak bobot yang diletakkan di bagian atas maka makin tinggilah letak titik Gnya.
Secara definisi titik berat (G) ialah titik tangkap dari semua gaya – gaya yang bekerja kebawah. Letak titik G pada kapal kosong ditentukan oleh hasil percobaan stabilitas. Perlu diketahui bahwa, letak titik G tergantung daripada pembagian berat dikapal. Jadi selama tidak ada berat yang di geser, titik G tidak akan berubah walaupun kapal oleng atau mengangguk.

(b). Titik Apung (Centre of Buoyance)
Titik apung (center of buoyance) diikenal dengan titik B dari sebuah kapal, merupakan titik tangkap dari resultan gaya-gaya yang menekan tegak ke atas dari bagian kapal yang terbenam dalam air. Titik tangkap B bukanlah merupakan suatu titik yang tetap, akan tetapi akan berpindah-pindah oleh adanya perubahan sarat dari kapal. Dalam stabilitas kapal, titik B inilah yang menyebabkan kapal mampu untuk tegak kembali setelah mengalami senget. Letak titik B tergantung dari besarnya senget kapal ( bila senget berubah maka letak titik B akan berubah / berpindah. Bila kapal menyenget titik B akan berpindah kesisi yang rendah.

(c). Titik Metasentris
Titik metasentris atau dikenal dengan titik M dari sebuah kapal, merupakan sebuah titik semu dari batas dimana titik G tidak boleh melewati di atasnya agar supaya kapal tetap mempunyai stabilitas yang positif (stabil). Meta artinya berubah-ubah, jadi titik metasentris dapat berubah letaknya dan tergantung dari besarnya sudut senget.
Apabila kapal senget pada sudut kecil (tidak lebih dari 150), maka titik apung B bergerak di sepanjang busur dimana titik M merupakan titik pusatnya di bidang tengah kapal (centre of line) dan pada sudut senget yang kecil ini perpindahan letak titik M masih sangat kecil, sehingga masih dapat dikatakan tetap.

Keterangan : K = lunas (keel)
B = titik apung (buoyancy)
G = titik berat (gravity)
M = titik metasentris (metacentris)
d = sarat (draft)
D = dalam kapal (depth)
CL = Centre Line
WL = Water Line
4. DIMENSI POKOK DALAM STABILITAS KAPAL
(a). KM (Tinggi titik metasentris di atas lunas)
KM ialah jarak tegak dari lunas kapal sampai ke titik M, atau jumlah jarak dari lunas ke titik apung (KB) dan jarak titik apung ke metasentris (BM), sehingga KM dapat dicari dengan rumus :

KM = KB + BM

Diperoleh dari diagram metasentris atau hydrostatical curve bagi setiap sarat (draft) saat itu.

(b). KB (Tinggi Titik Apung dari Lunas)
Letak titik B di atas lunas bukanlah suatu titik yang tetap, akan tetapi berpindah-pindah oleh adanya perubahan sarat atau senget kapal (Wakidjo, 1972).
Menurut Rubianto (1996), nilai KB dapat dicari :

Untuk kapal tipe plat bottom, KB = 0,50d
Untuk kapal tipe V bottom, KB = 0,67d
Untuk kapal tipe U bottom, KB = 0,53d

dimana d = draft kapal
Dari diagram metasentris atau lengkung hidrostatis, dimana nilai KB dapat dicari pada setiap sarat kapal saat itu (Wakidjo, 1972).

(c). BM (Jarak Titik Apung ke Metasentris)
Menurut Usman (1981), BM dinamakan jari-jari metasentris atau metacentris radius karena bila kapal mengoleng dengan sudut-sudut yang kecil, maka lintasan pergerakan titik B merupakan sebagian busur lingkaran dimana M merupakan titik pusatnya dan BM sebagai jari-jarinya. Titik M masih bisa dianggap tetap karena sudut olengnya kecil (100-150).
Lebih lanjut dijelaskan Rubianto (1996) :

BM = b2/10d , dimana : b = lebar kapal (m)
d = draft kapal (m)

(d). KG (Tinggi Titik Berat dari Lunas)
Nilai KB untuk kapal kosong diperoleh dari percobaan stabilitas (inclining experiment), selanjutnya KG dapat dihitung dengan menggunakan dalil momen. Nilai KG dengan dalil momen ini digunakan bila terjadi pemuatan atau pembongkaran di atas kapal dengan mengetahui letak titik berat suatu bobot di atas lunas yang disebut dengan vertical centre of gravity (VCG) lalu dikalikan dengan bobot muatan tersebut sehingga diperoleh momen bobot tersebut, selanjutnya jumlah momen-momen seluruh bobot di kapal dibagi dengan jumlah bobot menghasilkan nilai KG pada saat itu.

KG total = ? M
? W

dimana, ? M = Jumlah momen (ton)
? W = jumlah perkalian titik berat dengan bobot benda (m ton)

(e). GM (Tinggi Metasentris)
Tinggi metasentris atau metacentris high (GM) yaitu jarak tegak antara titik G dan titik M.

Dari rumus disebutkan :
GM = KM – KG
GM = (KB + BM) – KG

Nilai GM inilah yang menunjukkan keadaan stabilitas awal kapal atau keadaan stabilitas kapal selama pelayaran nanti

(f). Momen Penegak (Righting Moment) dan Lengan Penegak (Righting Arms)
Momen penegak adalah momen yang akan mengembalikan kapal ke kedudukan tegaknya setelah kapal miring karena gaya-gaya dari luar dan gaya-gaya tersebut tidak bekerja lagi (Rubianto, 1996).

Pada waktu kapal miring, maka titik B pindak ke B1, sehingga garis gaya berat bekerja ke bawah melalui G dan gaya keatas melalui B1 . Titik M merupakan busur dari gaya-gaya tersebut. Bila dari titik G ditarik garis tegak lurus ke B1M maka berhimpit dengan sebuah titik Z. Garis GZ inilah yang disebut dengan lengan penegak (righting arms). Seberapa besar kemampuan kapal tersebut untuk menegak kembali diperlukan momen penegak (righting moment). Pada waktu kapal dalam keadaan senget maka displasemennya tidak berubah, yang berubah hanyalah faktor dari momen penegaknya. Jadi artinya nilai GZ nyalah yang berubah karena nilai momen penegak sebanding dengan besar kecilnya nilai GZ, sehingga GZ dapat dipergunakan untuk menandai besar kecilnya stabilitas kapal.
Untuk menghitung nilai GZ sebagai berikut:
Sin ? = GZ/GM
GZ = GM x sinus ?
Moment penegak = W x GZ

(g). Periode Oleng (Rolling Period)
Periode oleng dapat kita gunakan untuk menilai ukuran stabilitas. Periode oleng berkaitan dengan tinggi metasentrik. Satu periode oleng lengkap adalah jangka waktu yang dibutuhkan mulai dari saat kapal tegak, miring ke kiri, tegak, miring ke kanan sampai kembali tegak kembali.
Wakidjo (1972), menggambarkan hubungan antara tinggi metasentrik (GM) dengan periode oleng adalah dengan rumus :

T = 0,75
?GM

dimana, T = periode oleng dalam detik
B = lebar kapal dalam meter
Yang dimaksud dengan periode oleng disini adalah periode oleng alami (natural rolling) yaitu olengan kapal air yang tenang.

(h). Pengaruh Permukaan Bebas (Free Surface Effect)
Permukaan bebas terjadi di dalam kapal bila terdapat suatu permukaan cairan yang bergerak dengan bebas, bila kapal mengoleng di laut dan cairan di dalam tangki bergerak-gerak akibatnya titik berat cairan tadi tidak lagi berada di tempatnya semula. Titik G dari cairan tadi kini berada di atas cairan tadi, gejala ini disebut dengan kenaikan semu titik berat, dengan demikian perlu adanya koreksi terhadap nilai GM yang kita perhitungkan dari kenaikan semu titik berat cairan tadi pada saat kapal mengoleng sehingga diperoleh nilai GM yang efektif.

Perhitungan untuk koreksi permukaan bebas dapat mempergunakan rumus:

gg1 = r . x l x b3
12 x 35 x W

dimana, gg1 = pergeseran tegak titik G ke G1
r = berat jenis di dalam tanki dibagi berat jenis cairan di luar kapal
l = panjang tangki
b = lebar tangki
W = displasemen kapal, (Rubianto, 1996)

Filed under: Tak Berkategori

AWAL

Filed under: UMUM

Halo dunia!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.

Filed under: Tak Berkategori

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.